Saturday, 2 January 2010

Selamat datang, Ke kota kecilku ini Tanjung Pura


Tanjung Pura, Langkat



Tanjung Pura, Blog ini  khusus ku dedikasikan untukmu yang mana kau adalah tempat tinggalku yang sangat ku cintai, jauh kaki ini melangkah tiada tempat yang indah dan sesederhana dikau biarpun kata orang engkau kecil dan jelek tak memiliki keindahan, namun di mataku tak ada sedikitpun kekurangan pada dirimu, kau seperti kekasih hati bagiku, walau apapun engkaulah yang terindah inilah yang dapat aku sampaikan, meski kata orang-orang  yang pernah mengenalmu, dirimu kampungan dan terlihat ketinggalan zaman, justru itulah yang membuat dirimu bernilai dikau memiliki karakter yang berbeda dengan daerah lainnya,  melihat keindahan dirimu melihat kediamanmu  engkau bagaikan orang tua yang bijak walau matamu telah sayu namun jiwamu yang bijaksana akan tetap
Lambang Kesultanan Negeri Langkat
Lambang ini telah digunakan sejak masa pemerintahan
Panglima Dewa Shahdan
Pendiri kesultanan Langkat
dihormati setiap orang muda, begitulah hal yang telah lama ingin aku sampaikan meskipun orang tertawa dan mungkin heran dengan apa yang kutulis pada blog ini namun aku tetap berkata jujur kau yang paling indah yang pernah kulihat di bumi ini, aku bersyukur engkau hidupkan aku di tubuh kecilmu ini, seribu cerita telah ku alami suka dan duka ku alami bersamamu, mungkin engkau telah mengenal ku cukup lama namun aku belum mampu memberikan apapun kepadamu hanya ini, inilah yang dapat aku lakukan agar kaupun di kenal dan dipandang meskipun aku tahu engkau tidak muda lagi, kota tua penuh kenangan dan harapan, terima kasih untukmu para pembaca dan yang utama tuhanku yang maha kuasa lagi esa yang saat ini selalu setia menolong hambanya sekian terima kasih.
Jl. Sudirman, Kota Tanjung Pura
Jl. Sudirman, Kota Tanjung Pura
Kota Tanjung Pura merupakan salah satu kota kecil di kepulauan Sumatera Utara, Indonesia (dahulu namanya di kenal dengan julukan Negeri Langkat atau yang berartikan Negara Langkat) yang berada pada wilayah provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Tanjung Pura terletak 60km di sebelah utara ibukota provinsi Sumatra Utara, Medan. Sebelum berstatus kecamatan, Dahulunya Tanjung Pura merupakan ibu kota Langkat, yang kemudian jabatan itu dipindahkan ke Binjai baru kemudian di pindahkan lagi ke kota Stabat yang letaknya tidak begitu jauh dari Tanjung Pura. Selain terkenal sebagai kota pendidikan, sejak zaman dahulu Tanjung Pura juga dikenal sebagai kota budaya, Dan itu dapat dibuktikan pula dengan adanya Penyair terkenal yang juga Ketua Pengadilan Kerapatan Kesultanan Langkat, sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia yaitu Tengku Amir Hamzah ia lahir dan sejak kecil telah menuntut ilmu di kota ini, Tanjung Pura berbatasan langsung dengan Kota Stabat di sebelah timur dan serta Kota Pangkalan berandan di utaranya. Tanjung Pura berada di tengah-tengah jalan raya Lintas Sumatera yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Tidak hanya terletak di daerah strategis juga merupakan daerah pesisir pantai, Namanya diambil dari kata “Tanjung” yang berarti Semenajung, “Pura” dahulunya terdapat bangunan berbentuk Gapura atau Gerbang dipinggir semenanjung yang disitu merupakan tempat pemandian anak raja dipinggir sungai yang tidak jauh letaknya dari bangunan istana sehingga maka dari itu lah ia dikenal dan disebut dengan nama Tanjung Pura. Kota Tanjungpura mulai dibangun sejak abad ke-17. Sejumlah bangunan di sekitar ujung Jalan Tengku Amir Hamzah menuju Pasar Tanjungpura menjadi bukti bahwa daerah ini pernah menjadi salah satu pusat peradaban di zaman penjajahan Belanda. Bangunan dengan arsitektur Eropa itu sudah berumur sekitar 300 tahun lebih. Sebuah rumah sakit bergaya bangunan Eropa juga turut berdiri di Tanjungpura dan masih berfungsi hingga saat ini. Desain arsitektur Cina yang juga menghiasi bangunan-bangunan tua tersebut juga menunjukkan bahwa perdagangan di daerah ini sangat berkembang dulunya. Tanjung Pura sejak lama dijuluki sebagai kota Islam karena mayoritas penduduknya menganut islam sehingga sangat kental akan budaya islam, Hal ini terbukti dengan banyaknya tarikat-tarikat islam di Tanjung Pura contoh yang sangat terkenal adalah tarikat Naqsabandiyah yang adanya di Besilam. Tidak hanya itu Tanjung Pura juga dikenal dengan kota Dodol ketan yang sangat pulen yang dapat dijadikan panganan oleh-oleh untuk keluarga.Tanjung Pura di apit oleh dua sungai yaitu sungai Sei Wampu yang ada di kota Stabat dengan sungai batang serangan, yaitu sungai yang berada di tengah kota Tanjung Pura, hulunya berada di kawasan Gunung Leuser. Aliran sungai ini melintasi Kecamatan Batang Serangan, Kecamatan Padang Tualang, dan Kecamatan Tanjung Pura, sampai akhirnya bermuara di perairan Selat Malaka. Di masa lalu, sungai Batang Serangan merupakan urat nadi transportasi perdagangan dari manca negara. Kota Tanjung Pura menjelma menjadi pusat bisnis pedagang dari berbagai kawasan di Nusantara, bahkan mancanegara, salah satunya berkat keberadaan sungai ini. Alur sungai Batang Serangan mengalir di kota Tanjung Pura menuju laut lepas, sehingga menjadikan Tanjung Pura sangat ramai. Bukan saja menjadi pusat bisnis, melainkan sebagai pusat pemerintahan Sultan Langkat kala itu. Hingga Akhirnya Kabar tersebut terdengar  sampai ke negeri Belanda, Kedatangan Belanda di Langkat Pada tahun 1870, Membuat Perekonomian Langkat semakin maju, sultan Langkat kala itu Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah kemudian menjalin kerja sama dengan pihak Belanda untuk mengelola sumberdaya yang dimiliki Negara Langkat salah satunya yaitu pengelolaan perkebunan tembakau dan karet, Tak hanya itu yang terpenting adalah saat seorang warga Belanda bernama Aeliko Janszoon Zijlker (ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij, perusahaan perkebunan yang ada di daerah ini pada masa itu) Menemukan sumber minyak terbesar di Pangkalan Brandan dan juga merupakan sumur minyak pertama di Indonesia, Membuat Kesultanan Langkat semakin kaya raya, Sehingga "Persahabatan"  Belanda dan Kesultanan Langkat semakin erat, pemerintahan kolonial Belanda sangat berperan penting termasuk pula dalam menciptakan sarana transportasi jalur darat dan menciptakan rel kereta api Pangkalan Brandan hingga Belawan, Belanda pula yang membangun jembatan dari kerangka besi baja yang menyatukan pinggiran sungai Batang Serangan. Buruh pekerja di masa itu hampir sebagian besar didatangkan Belanda dari Pulau Jawa atau dikenal dengan istilah Jakon (Jawa Kontrak).

Sensus Penduduk Tahun 2000
Data kota Luas : 165,78 km²
Jumlah penduduk : 66.113 - Kepadatan : 400 jiwa/km²
Desa/kelurahan : 18 Jumlah Penduduk Tahun 2000
Peta Wilayah









Sejarah
Sejarah Perkembangan budaya Sekitar 1800-an, di Indonesia terdapat sekitar 9 negara (Kerajaan) di Pulau Sumatera. Membentang dari Utara ke Selatan diantaranya adalah Negeri Langkat (ibukotanya saat itu: Tanjungpura); Negeri Deli (Medan); Negeri Serdang (Perbaungan); Negeri Asahan (Tanjung Balai); Negeri Tambang Batubara; Labuhan Batu (terdiri dari Ledong, Kualuh, Panai, Bilah) dan Negeri Siak Sri Inderapura (sekarang di Riau). Kesultanan ini pernah di bawah perlindungan Kesultanan Aceh, sampai Siak datang untuk memerintah. Untuk memperkuat posisinya, antar-perkawinan antara keluarga kerajaan sering dicapai serta dengan negara-negara indo di Semenanjung Malaya, tepat di seberang Selat Malaka.

Seperti yang dijelaskan pada laman blog (http://tanjungpurabangkit.wordpress.com
yang telah saya sempurnakan kalimatnya sebagai berikut :
Sejarah Kesultanan Langkat :

Tengku Musa atau Sultan Musa yang memiliki tiga orang anak, yakni Tengku Sulong yang menjabat sebagai Pangeran Langkat Hulu (Binjai), Tengku Hamzah yang menjabat sebagai Pangeran Langkat Hilir (Tanjung Pura), dan Tengku Abdul Aziz(Anak Bungsu). Dalam tradisi kerajaan, anak tertua adalah pewaris tahta. Namun, Sultan Musa tak melakukan itu. Pada tahun 1896, ia memberikan tahtanya pada si bungsu, Tengku Abdul Aziz, meski belum dilantik karena alasan usia yang terlalu muda. Penyebab tindakan Sultan Musa itu tak lain karena ia telah terikat janji dengan dengan istrinya, Tengku Maslurah, yang merupakan permaisuri Raja Bingai(Binjai). Perkawinan Musa dan Maslurah memang perkawinan politik. Setelah Langkat menggempur Bingai (Binjai), maka sang permaisuri diambil oleh sang pemenang, sebagaimana yang terjadi pada zaman raja-raja terdahulu. Akan tetapi, Maslurah tetap meminta syarat, yakni anak dari perkawinannya dengan Sultan Musa kelak haruslah menjadi Raja Langkat. Tindakan Sultan Musa melahirkan protes dari anak-anaknya yang lain, terutama Tengku Hamzah (Kakek Tengku Amir Hamzah). Sempat terjadi upaya Kudeta, namun tak berhasil. Tengku Hamzah lalu memisahkan diri dari Istana Kerajaan Langkat, Darul Aman, dan membangun istananya sendiri di Kota Pati(Tanjung Pura). Karena posisinya yang berada di tanjung atau persimpangan, maka Tengku Hamzah juga dikenal sebagai Pangeran Tanjung. Dan tak jauh dari istana, ada sebuah pura atau pintu
Tengku Pangeran Adil  Ayahanda Tengku  Amir Hamzah
Tengku Pangeran Adil 
Ayahanda Tengku 
Amir Hamzah
gerbang tempat para anak raja mandi di sungai. Alhasil, nama kawasan itu kemudian disebut Tanjung Pura. Tengku Hamzah kemudian memiliki seorang  putra bernama Tengku Pangeran Adil. Pangeran Adil dikenal pemberani dan sangat membenci Belanda. Beberapa kali ia terlibat perkelahian dengan orang-orang dari Eropa itu. Dan dari Pangeran Adil ini lah lahir anak bernama Tengku Amir Hamzah, seorang penyair besar yang kelak turut menggelorakan gerakan anti kolonialisme melalui gagasan Indonesia. Pada tahun 1896, Tengku Abdul Aziz(Si Anak Bungsu) pun dilantik menjadi Sultan Langkat. Sebelum dilantik, ditemukan pula sumber minyak di Telaga Said Securai pada tahun 1869. Minyak ini lantas dieksplorasi pada tahun 1883 melalui kerjasama dengan Maskapai Perminyakan Belanda ketika itu, yang juga menjadi embrio munculnya cikal bakal PT.Pertamina persero kelak, yakni De Koninklijke (De Koninklijke Nederlandsche Maatschappij tot Exloitatie van Petroleum bronnen in Nederlandsche-Indie). Minyak di Pangkalan Brandan ini, juga ditambah dengan kekayaan perkebunannya, hal inilah yang menyebabkan Langkat sebagai negara paling kaya di Sumatera Timur kala itu. Usai Abdul Aziz, tahta Kerajaan Langkat pun kemudian diwarisinya kepada anaknya sendiri, yaitu Tengku Mahmud, yang bergelar Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah. Seperti 
Negara Penjajah Indonesia Belanda dan Jepang
Negara Penjajah Indonesia
Belanda dan Jepang
kebiasaan sebelumnya, Tengku Mahmud memindahkan lagi pusat Kerajaan atau Kesultanan Langkat ke Binjai dan mendirikan Istana baru di sana. Di masa Sultan Mahmud, tepatnya saat Kerajaan Jepang masuk dan membuat Kerajaan Belanda pun harus angkat kaki, sejumlah catatan menunjukkan penderitaan rakyat. Rakyat diperas dan diperbudak untuk mengerjakan proyek-proyek Jepang. Di sini tak ditemukan bagaimana relasi, kontestasi, dan peta politik Langkat dengan negara-negara tetangga. Yang tercatat, sebagaimana ditulis oleh Zainal Arifin, adalah perlawanan yang dilakukan negeri Besitang yang dipimpin oleh Wakil Kepala Negeri Besitang, OK. M. Nurdin yang bergelar Datuk Setia Bakti Besitang. Datuk Besitang ini semula adalah Datuk Panglima Sultan Langkat. Ia ditarik ke dalam istana oleh Sultan Mahmud demi meredam kemarahan Belanda karena tindakan-tindakan sang datuk yang kerap menantang Belanda. Saat Belanda hengkang, Nurdin pun dikembalikan lagi ke Besitang. 

Penduduk Asli Negeri Langkat dan Istana Langkat (Kiri) dan Kolonial Belanda (Kanan)
Penduduk Asli Negeri Langkat dan Istana Langkat (Kiri) dan
Kolonial Belanda (Kanan)
Dan disitulah ia melakukan konsolidasi untuk melawan Jepang. Kejadian yang terkenal adalah di saat ia dan pasukannya menyerang markas Jepang yang berada di Stasiun Kereta Api Besitang pada 15 Desember 1945. Penyerangan itu berhasil. Enam tentara Jepang tewas dan sisanya melarikan diri ke Pangkalan Berandan. Senjata-senjata Jepang pun mereka lucuti. Namun, pada malam itu juga, dini hari, Jepang membalas. Nurdin  yang seorang diri tersergap oleh pasukan Jepang yang menaiki beberapa truk militer. Mungkin karena merasa tak ada jalan mundur, Nurdin, yang ketika itu berusia 75 tahun, memberikan perlawanan. Ia diceritakan sempat membunuh puluhan serdadu Jepang sebelum akhirnya ia pun tewas dengan mengenaskan. Jenazahnya dibuang oleh serdadu Jepang ke dalam sungai. Sebelum Jepang masuk, Sultan Mahmud pernah mencoba untuk menyatukan kembali kekuatan Kerajaan Langkat. Diantaranya yang ia lakukan adalah ia ingin menikahkan cucu Tengku Hamzah yang merupakan anak Tengku Pangeran Adil, Yaitu Tengku Amir Hamzah, dengan anak kandungnya sendiri, Tengku Kamaliah. Namun saat itu, Amir Hamzah ternyata sudah memiliki kekasih seorang Jawa. sedangkan adik perempuan Sultan Mahmud ia nikahkan pula dengan putra mahkota Kesultanan Selangor, Malaysia kini, yakni Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Alhaj Ibni Sultan Hasanuddin Alam Syah. Baca Selengkapnya...

Negeri Langkat, Tanjung Pura
Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat, Januari 1963
Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat, Januari 1963
Kesultanan Langkat yang berpusat di Negeri Langkat dulunya, sekarang adalah kota Tanjung Pura merupakan salah satu negara yang tertua di daerah pesisir utara-timur Sumatera. Meskipun telah ada pada masa sebelum masuknya Islam, dengan meninggalkan jejak sejarah yang telah ada sejak abad ketujuh belas. Rumah Royal menjabat sebagai wakil atau penguasa lokal atas nama Sultan Aceh sampai tahun-tahun awal abad kesembilan belas. Kedatangan orang Eropa selama belasan hingga dua puluhan tahun, juga melemahnya sumberdaya Aceh di belakang mereka, mendorong Raja-Raja Langkat untuk mencari cara untuk membangun kemandirian mereka sendiri. Mereka ingin memutuskan hubungan dengan Aceh, dan memohon perlindungan dari Sultan Siak yang menyerang kerajaan Aceh yang saat itu berkuasa, lalu kekuasaan Siakpun mendominasi pantai timur Sumatera. Namun, tak lama Acehpun kembali menyerang  dan berhasil menguasaidaerahnya kembali pada tahun 1850-an dan berhasil mendapatkan sepenuhnya kembali kekuasaannya. Pemberian gelar kepada Raja dan sumberdaya yang melimpah membuat aceh sangat kuat untuk beberapa waktu. Sampai-sampai kekuasaan Aceh bukan tandingan bagi Penjajah Eropa. Langkat yang pada saat itu merupakan wilayah kekuasaan penjajahan Belanda membuat kontrak terpisah dengan Belanda pada tahun 1869. Mereka mendirikan satu wilayah diluar dari Aceh dan mengangkat seorang Raja dan diakui sebagai Sultan pada tahun 1887.
Sisi Samping Kanan Mesjid Azizi
Sisi Samping Kanan Mesjid Azizi

Potensi untuk mengembangkan ekonomi perkebunan godaan besar untuk Belanda dan mencari keuntungan dari prospek pendapatan dari sewa tanah yang terlalu luas dari Raja. Musa al-Khalidy diasumsikan gelar Sultan dan sebuah nama untuk menandakan pemerintahan-Nya setara dengan mantan kaisar. Yang sama dengan Deli, Asahan dan Siak, kesultanan makmur. Ternyata di luar dugaan, Permintaan karet meledak selama Perang Besar dan terus meningkatnya permintaan untuk minyak diikuti selama tahun 1920-an dan 30-an. Pada awal tahun 1930-an Sultan Langkat adalah penguasa terkaya di Sumatra, berkat ladang minyak dari Pangkalan Brandan. Keadaan ini membuat Jepangpun berminat untuk menguasainya.

Dikutip dari laman situs : http://sriandalas.multiply.com

Kota Tanjung Pura juga merupakan kota multi etnis, dihuni oleh suku Jawa, suku Batak Karo, suku Tionghoa dan suku Melayu pada umumnya. Kemajemukan etnis ini menjadikan Tanjung Pura kaya akan kebudayaan yang beragam. Jumlah penduduk kota Tanjung Pura sampai pada April 2000 adalah 66.113 jiwa dengan kepadatan penduduk 400 jiwa/km persegi. Kelurahan sekitar 18. Banyak juga penduduk Tanjung Pura yang bekerja sebagai Nelayan karena letaknya yang di kelilingi oleh perairan. Agama di Tanjung Pura terutama: Islam - dipeluk mayoritas suku Melayu juga jawa, mesjid terbesar berlokasi di Jalan Mesjid. Kristen - dipeluk sebagian besar suku batak Karo, gereja yang terbesar adanya di Jalan Bambu runcing dan  Buddha - dipeluk oleh mayoritas suku Tionghoa yang berdomisili di Kota Tanjung Pura  Pendidikan Sampai saat ini, sekolah umum yang terdaftar di Kota Tanjung Pura yaitu :

Sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS), Tanjung Pura, Langkat, Januari 1963 : (Sekarang SMPN 1 Tg.Pura)
Sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS), Tanjung Pura,
Langkat, Januari 1963 : (Sekarang SMPN 1 Tg.Pura)
SD Negri 1 s/d 10 Tg. Pura
SD Swasta Samanhudi Tg. Pura
MTSN Negri Tanjung Pura
Madrasah Alwatsiyah Swasta Tg. Pura 
SMP Negri 1, 2, dan 3 Tg. Pura
SMP Swasta Sri Langkat
SMP Swasta Samanhudi Tg. Pura
SMP Swasta YPII Tg. Pura
MAN 1 dan 2 Tg. Pura
SMA Negri Tanjung Pura
SMA Swasta Sri Langkat
SMA Swasta Samanhudi Tg. Pura
SMK Negri Tanjung Pura
SMK Swasta YPII Tg. Pura
SMK Swasta Sri Langkat
Universitas Swasta Muhammadiah Alwatsiyah Tg. Pura



Transportasi
Sarana transportasi di dalam kota Tanjung Pura terutama adalah beca mesin roda tiga dan mobil angkutan umum yang disebut mekar bila ingin ke setabat. Untuk transportasi ke luar kota yang jauh seperti Medan dan Banda Aceh dapat menggunakan kendaraan lintas sumatra atau kendaraan antar pulau seperti Bus dan yang lainnya Sampai saat ini, prasarana jalan di Kota Tg. Pura terdiri dari : Jalan aspal, Jalan kerikil, Jalan tanah, Jalan perairan. Kota Tg. Pura dengan kode pos 20853, saat ini hanya mempunyai satu kantor pos induk tepatnya di Jln. Merdeka

Telekomunikasi  :
Operator Seluler GSM yang beroperasi di kota Tg. Pura :
Pekerja memanjat Tower yang sangat tinggi
Seorang Pekerja Memanjat Tower/Menara
Telkomsel (3G) 
Indosat (2G)
XL (3G) Axis (2G)
3 (2G) 
Operator CDMA yang beroperasi di kota Tg. Pura : 

Telkom Flexi
Esia/Bakrie Telecom
Smart Telecom
Fren

Rumah sakit Yaitu  :
RSU Tanjung Pura dan Klinik Husada

Pemakaman umum Taman pemakaman umum di Tg. Pura yaitu :
Mesjid Azizi Tanjung Pura

Lain-lain
Masjid Azizi Tanjung Pura
Tampak Dalam MesjidTampak Dalam Mesjid
Masjid Azizi, Masjid Azizi adalah Saksi Bisu Kejayaan Langkat, Berdiri di atas tanah seluas 18.000 meter persegi, masjid tua yang dibangun pada masa Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927), sultan Langkat ke-7. Pada masa inilah Kesultanan Langkat kaya raya dengan kontrak minyak dan perkebunan tembakau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda. Tak heran jika Istana Darul Aman Langkat juga dibangun pada masa sultan ini. Didirikan hanya dalam 18 bulan dan menelan biaya 200.000 ringgit,  dengan arsitek dari Jerman, pekerjanya adalah masyarakat Langkat dan Tionghoa. Bahan bangunannya seperti atap tembaga dibeli dari Penang Malaysia dan Singapura, masjid yang berkapasitas 2000 jemaah ini  memadukan corak arsitektur Tiongkok, Persia, Timur Tengah, dan tentu saja Melayu sendiri. Menara yang menjulang di halamannya serta ukiran pada pintu-pintunya juga bernuansa arsitektur Tiongkok. Bangunan utamanya bercorak Timur Tengah dan India dengan lebih dari sembilan kubah. Di dalamnya terdapat bangunan segi sembilan dengan tiang menjulang ke atas. Tempat khatib berkhutbah berbentuk mihrab berundak yang cukup tinggi seperti pelaminan raja. Masjid ini mirip bangunan masjid raya Kesultanan Deli di Medan, karena bagaimanapun Langkat dan Deli masih ada hubungan kekerabatan. Demikian juga dengan, bangunan Masjid Zahir di Kedah sangat mirip dengan masjid Azizi ini. Itu barangkali karena Sultan Langkat pernah memiliki hubungan perkawinan dengan Sultan Kedah. Biasanya setiap tahun diadakan Festival Azizi di masjid ini. Kegiatannya beragam, mulai dari lomba barzanzi, azan, marhaban, dan membaca puisi. Ini juga untuk memperingati tahun wafatnya Tuan Guru Besilam Babussalam Syeikh Abdul Wahab Rokan, yang dikenal sebagai ulama penyebar Tariqat Naqsabandiah. Pengikutnya menyebar hingga ke Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, dan negara-negara Asia Tenggara. Kini, ia tampak keriput, pucat, dan seperti kurang sentuhan tangan. Usianya memang sudah cukup tua, 108 tahun sejak didirikan pada 12 Rabiul Awal 1320 H atau 13 Juni 1902.

Abdoel Aziz Abdoeldjalil Rachmat Sjah,  Sultan van Langkat 1895
 Abdoel Aziz Abdoeldjalil Rachmat Sjah,
 Sultan van Langkat 1895
(Sultan Muda)
Ia adalah saksi bisu peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Langkat dari masa silam hingga kini; masa dimana banyak orang hanya melihatnya sebagai monumen masa lalu yang nyaris terlupakan. Dua Bangunan Istana Langkat, yaitu Darul Aman dan Darussalam yang megah dahulu pun telah hancur dalam Revolusi Sosial tahun 1946, tetapi Masjid Di Raja (Masjid Azizi) dan Pekuburan Diraja masih terawat dengan baik hingga sekarang di Tanjung Pura. Dan untuk kepentingan pelestarian Budaya Melayu Resam Langkat maka tetap diangkat Sultan Langkat, dimana yang sekarang adalah sultan ke 13. Sedangkan Majlis Budaya Melayu Sumatra Timur yang mengurusi dokumentasi budaya Melayu seluruh pantai timur dipusatkan di Stabat (dimana sebuah Rumah Panggung Melayu diwujudkan sebagai tempat pameran dan aktivitas budaya lainnya).






Tokoh-tokoh yang berasal dari Tanjung Pura

Adapun tokoh-tokoh Tanjung Pura yang menjadi Tokoh Nasional di antaranya yang paling terkenal yaitu :

Sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah
Foto Tengku Amir Hamzah
Nama lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah, tetapi biasa dipanggil Amir Hamzah. Ia dilahirkan di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911. Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Pamannya, Machmud, adalah Sultan Langkat yang berkedudukan di ibu kota Tanjung Pura, yang memerintah tahun 1927-1941. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil (yang tidak lain adalah saudara Sultan Machmud sendiri), menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur. Mula-mula Amir menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916. Namun penerimaan siswanya masih sangat terbatas, di masa itu yang diterima hanya anak-anak bangsawan dan dan anak pegawai Ambtenaar Belanda serta orang-orang kaya yang berharta, dalam bahasa pengantarnya lembaga pendidikan ini menggunakan bahasa Belanda. Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama pada zaman penjajahan kolonial Belanda yang di khususkan untuk orang pribumi) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927. Amir, kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum. Amir Hamzah tidak dapat dipisahkan dari kesastraan Melayu. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam dirinya mengalir bakat kepenyairan yang kuat. Buah Rindu adalah kumpulan puisi pertamanya yang menandai awal kariernya sebagai penyair. Puncak kematangannya sebagai penyair terlihat dalam kumpulan puisi Nyanyi Sunyi dan Setanggi Timur. Selain menulis puisi, Amir Hamzah juga menerjemahkan buku Bagawat Gita. Riwayat hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Ketika itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai. Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepada rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung. Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revolusi sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Dalam diri seorang penyair, ada dua aspek yang sering diperbincangkan, yaitu realitasnya sebagai seorang manusia, dan kapasitasnya sebagai seorang penyair. Dua realitas ini berjalan seiring, saling mempengaruhi dan saling menjelaskan. Semua penyair adalah manusia, namun, tidak semua manusia menjadi penyair. Amir Hamzah adalah seorang manusia pandai bersyair. Ia terlahir sebagai putera dari seorang keluarga istana, sebuah posisi politik yang tidak selamanya menguntungkan. Sebab ia tak kuasa untuk memilih, apalagi menolak, apakah menjadi bagian dari rakyat jelata, atau bangsawan istana. Lahir pada 28 Januari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, Amir tumbuh dan berkembang dalam suasana harmonis keluarga sultan. Sebagaimana kerajaan Melayu lainnya, Langkat juga memiliki tradisi sastra yang kuat. Lingkungan istana inilah yang pertama kali mengenalkan dunia sastra pada dirinya. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil adalah seorang pangeran di Langkat yang sangat mencintai sejarah dan sastra Melayu. Pemberian namanya sebagai Amir Hamzah disebabkan ayahnya yang sangat mengagumi Hikayat Amir Hamzah. Dalam lingkungan yang seperti itulah, kecintaan Amir terhadap sejarah, adat-istiadat dan kesusasteraan negerinya tumbuh. Lingkungan Tanjungpura juga sangat mendukung perkembangan sastra Melayu, mengingat penduduknya kebanyakan berasal dari Siak, Kedah, Selangor dan Pattani. Dalam masa pertumbuhannya di Tanjungpura, ia bersekolah di Langkatsche School, sebuah sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda. Di sore hari, ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar bekas istana Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat. Setelah tamat HIS (Hollandsch Inlandsche School Sekarang adalah bangunan sekolah SMPN 1 Tg.Pura), Amir melanjutkan studi ke  MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama pada zaman penjajahan kolonial Belanda yang di khususkan untuk orang pribumi) di Medan. Tidak sampai selesai, ia pindah ke MULO Jakarta. Saat umurnya masih 14 tahun. Disamping lingkungan istana Langkat dan kota Tanjungpura, perkembangan kepenyairan Amir Hamzah juga banyak dibentuk selama masa belajarnya di Jawa, sejak sekolah menengah di MULO Jakarta, Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, hingga Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Semasa studi di Jawa inilah, terutama ketika masih di AMS Solo, Amir menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya. Pada tahun 1931, ia pernah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo ia bergaul dengan para tokoh pergerakan nasional dan telah memberikan sumbangan tak ternilai pada dunia kesusasteraan. Ia telah memberikan sumbangan tak ternilai dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia, melalui karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Menurutnya, bahasa Melayu adalah bahasa yang molek, yang tertera jelas dalam suratnya kepada Armijn Pane pada bulan November 1932. Bahasa Indonesia bagi Amir adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan, dan juga keislaman. Syair-syair Amir adalah refleksi dari relijiusitas, kecintaan pada ibu pertiwi dan kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu. Selama hidupnya Amir telah menghasilkan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan. Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Karya-karya tersebut terkumpul dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita. Dari karya-karya tersebutlah, Amir meneguhkan posisinya sebagai penyair hebat. Amir adalah perintis yang membangun kepercayaan diri para penyair nasional untuk menulis karya sastranya dalam bahasa Indonesia, sehingga posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan semakin kokoh. Penghargaan terhadap jasa dan sumbangsih Amir Hamzah terhadap bangsa dan negara Indonesia baru diakui secara resmi pada tahun 1975, ketika Pemerintah Orde Baru menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Dalam tataran simbolik lainnya, penghargaan dan pengakuan terhadap jasa Amir Hamzah ini bisa dilihat dari penggunaan namanya sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, dan nama masjid di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Amir Hamzah lahir dan besar di tengah revolusi, dan revolusi juga yang telah menguburnya. Ia meninggal akibat revolusi sosial di Sumatera Timur pada bulan Maret 1946, awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ia hilang tak tentu rimbanya. Mayatnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kuala Begumit. Ia tewas dipancung tanpa proses peradilan pada dinihari, 20 Maret 1946, ia meninggal dalam usia yang relaif mati muda, 35 tahun. Kesalahannya saat itu adalah, ia lahir dari keluarga istana. Karena pada saat itu sedang terjadi revolusi sosial yang bertujuan untuk memberantas segala hal yang berbau feodal dan feodalisme. Sebagai korbannya, banyak para tengku dan bangsawan istana yang dibunuh, termasuk Amir Hamzah sendiri. Saat ini, di kuburan Amir Hamzah terpahat ukiran dua buah sajaknya.
Makam Tengku Amir Hamzah
Ukiran kata pada nisannya :

Biarlah daku tinggal disini. Sentosa diriku disunyi sepi.
Tiada berharap tiada meminta. Jauh dunia disisi dewa...

Sunyi itu duka ...
Sunyi itu kudus ...
Sunyi itu lupa ...
Sunyi itu lampus....


Monumen Penghargaan Tengku Amir Hamzah di depan Kantor Bupati Langkat, Setabat
Monumen Penghargaan Tengku Amir Hamzah di depan Kantor
Bupati Langkat, Setabat
















Monumen Penghargaan Raksasa Tengku Amir Hamzah
Sebuah Syair "Berdiri Aku" Juga Riwayat Hidup Tengku Amir Hamzah
Tertulis Indah Pada Monumen Penghargaan Raksasa di depan
Kantor Bupati Langkat, Setabat
























Berikut kata-kata indah yang terangkum dalam puisi yang berjudul "Berdiri Aku" Karya Tengku Amir Hamzah :
Foto Tengku Amir Hamzah
Tengku Amir Hamzah

“Berdiri Aku”

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.

Dalam rupa maha sempuma
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.



Tanjung Pura Di Masa Kini

Istana Langkat

Seperti pada daerah dimanapun didunia ini setiap jam berganti jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, pasti ada saja perubahan,  demikian pula halnya yang terjadi dengan kota tanjung Pura. Sekarang kota ini hanyalah kota kecamatan saja dengan jumlah penduduk ± 66 ribu jiwa. Ibu kota kabupaten Langkat sekarang adalah Stabat, yang pada tahun 1960 masih berupa desa dengan sederet toko dan warung di persimpangan jalan provinsi di antara Binjai dan Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.  
Setelah terjadi revolusi sosial tahun 1946, putra mahkota sultan terakhirnya, penyair Amir Hamzah, mati dengan kepala terpenggal, terpisah antara badannya di Kuala Begumit. Istananya yang bertingkat di jadikan SMA runtuh di tahun 1963, Menurut saksi yang pernah melihat kejadian, ketika itu para siswa tengah menonton acara perayaan 17 Agustus kemudian siswa berlari ke teras/balkon istana dan tiba-tiba saja bangunan Istana itu runtuh dan menimpa orang-orang yang berada dibawahnya, sontak keadaan berubah menjadi histeris dan mencekam, kejadian itu pula banyak menelan korban jiwa terutama adalah siswa. Anda tidak akan pernah menjumpai istana Darussalam ini  lagi di kota Tanjung Pura seperti halnya istana Maimun kesultanan Deli di Medan sekarang, Karena bangunan Istana kesultanan Langkat ini sejak peristiwa itu sudah lama tidak ada lagi/runtuh. namun bangunan utuhnya masih dapat dilihat melalui beberapa fotonya. 
Istana Darussalam Langkat Siang Hari (Kiri) Malam Hari (Kanan)
 Istana Darussalam Langkat Siang Hari (Kiri) Malam Hari (Kanan)
Di Setiap sudut dihiasi oleh lampu-lampu yang indah
(Lokasi sekarang MAN 2 Tanjung Pura)

MAN 2 Tanjung Pura
MAN 2 Tanjung Pura
Kiri : (Gapura/Gerbang Istana) Halaman Depan
Kanan : (Pilar Penyangga Istana) Halaman Belakang

Istana Kesultanan Langkat
ISTANA LANGKAT
Kiri : Istana Lama Darulaman (Sekarang SDN 4/6 Tg.Pura)
Kanan : Istana Baru Darussalam  (Sekarang MAN 2 Tg.Pura)
Kedua Bangunan Hanya Tinggal Sejarah
Tanjung Pura belum lah dikategorikan menjadi kota hantu (kota tertinggal). Begitu pula dengan kota Pangkalan Brandan, sebagai kota yang terkenal dengan kekayaan minyaknya di Langkat. Tetapi keduanya kinipun telah redup. Banyak hal yang menjadi penyebab suatu kota ditinggalkan penduduknya. diantaranya karena wabah penyakit, serangan musuh, dan terutama juga karena faktor ekonomi. Kita tahu Tanjung Pura, dulunya merupakan pusat bisnis penunjang aktifitas minyak bumi di Pangkalan Brandan dan perkebunan karet di sekitarnya, adapun menjadi surut karena kedua komoditi ini kehilangan pamornya. Di Dunia di antaranya beberapa negara berikut Amerika Latin, Mesir, Asia Tengah pada Jalur Sutra/Silk Road yang dulunya megah kini telahpun menjadi kota tua tertinggal, selain itu juga banyak pula kota-kota tertinggal di penjuru dunia lainnya, seperti Machu Picchu, Chichen Itza, Luxor, Akhetaten, Memphis, Leptis Magna, Carthage Angkor Wat, Ayutthaya dan lain lain. Disebabkan oleh bencana alam, wabah penyakit, perang, dan yang terpenting adalah karena faktor ekonomi, sehingga membuat tempat itu tidak lagi menjanjikan bagi penduduknya. Akhirnya kota-kota ini menjadi kampung biasa ditelan alam, hutan, gurun atau tanah dan kini hanya menyisakan cerita saja. 

Menjejakkan langkah di tanah Kesultanan Langkat kini, di gerbang kotanya tertera tulisan "Selamat datang di kota Tanjung Pura" yang dilambangkan sebuah Gapura berbentuk keris dan tepak sirih.

Beristirahat sejenak menikmati Keteduhan Pepohonan rindang di depan Bangunan Bundar tepatnya di pinggir jalan Lintas  Kota Tanjung Pura, dimana puluhan pedagang menyajikan makanan minuman di areal trotoar jalan  yang  dibentangkan tikar lesehan dengan sajian utama berupa air Kelapa Muda, Melepas dahaga dan menikmati keteduhan pepohonan yang tertata rapi di kiri dan kanan jalan.  Sambil menikmati Minuman Kelapa Muda yang disajikan dengan tambahan pilihan rasa gula aren lamat-lamat terdengar  perbincangan antara beberapa masyarakat disekitar yang menggunakan logat dan penggunaan bahasa melayu yang masih terpelihara menjadikan kota Tanjung pura seakan tak lekang oleh zaman. Pedagang Di lintasan Jalan Tanjung pura ini memiliki sebuah budaya jual beli yang khas dan merupakaan sebuah akar budaya masyarakat melayu  dimana bila  dalam melakukan jual belinya di sebutkan akadnya antara penjual terhadap pembeli. Dari situ terlihat sebuah bangunan lama peninggalan zaman belanda yang kini dijadikan museum daerah kabupaten langkat, yang pada mulanya merupakan kantor keresidenan masa dahulu.

Kantor Kerapatan

Museum Daerah Langkat, Tanjung Pura
Museum Daerah Langkat, Tanjung Pura
Bangunan ini didirikan pada tahun 1905, terletak di Jl. Amir Hamzah No. 1, Tanjung Pura dulunya sebagai gedung kerapatan tempat sultan bersidang. Setelah Indonesia Merdeka, tidak dimanfaatkan lagi. Kemudian, sempat jadi kantor camat dan kantor pembantu bupati. Namun, kemudian tidak terpakai lagi. Setelah itu oleh pengurus diusulkan ke DPR agar dijadikan museum. Dan usulpun diterima, kemudian bangunan inipun resmi berubah menjadi bangunan Museum Daerah/Museum Langkat, mulai beroperasi sejak tahun 2002 setelah direnovasi oleh Pemerintah Kabupaten Langkat yang saat itu dipimpin oleh Syamsul Arifin, beliau juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sumut.

Di Bangunan Bundar yang didalamnya memiliki Beberapa ruang dengan kubah berbentuk Setengah Lingkaran (sekilas mirip Seperti Kubah masjid pada umumnya)  disisi kubah dihiasi  kaca  yang berjejer melingkar   yang didesain sebagai pencahayaan didalam ruangan atau galeri, Dengan luas gedung sekitar 1500 meter persegi, museum ini terdiri atas beberapa ruang. Yakni, ruang Tengku Amir Hamzah, ruang budaya Melayu, ruang budaya Jawa, ruang budaya Karo, ruang Masa Perjuangan, dan ruang Tuan Guru Besilam. Selain itu, juga terdapat miniatur Masjid Azizi, miniatur rumah Tengku Amir Hamzah, replika Singgasana Sultan Langkat dan miniatur Istana Sultan Langkat.

Dari dalam ditengah kubah dipajang  lampu gantung sebagai lampu utama ruangan. Di Areal Dinding Bangunan yang kokoh ini Dipajang  beberapa foto-foto sejarah kejayaan masa lampau dan miniatur bangunan istana sebagai reflika dari singgasana  kesultanan   dengan ornamen yang mirip dengan bangunan aslinya. Bangunan dengan Arsitektur yang indah dimana di sudut kiri dan kanan terdiri atas pintu  dan ruangan sebagai pintu alternatif menuju ruangan induk yang melingkari bangunan bundar ini dengan teras disekitarannya. Dibeberapa Sisi Ruangan khusus yang menampilkan foto dan miniatur Tentang Perjuangan Tengku Amir Hamzah , dan Sejarahnya. Di sudut Ruangan lainnya di sajikan Miniatur Bangunan rumah Suluk dari Tariqah Nasaqabandiyah dengan menampilkan foto-foto pemimpin tariqah dari Syech Abdul wahab Rokan hingga Pemimpin yang sekarang.


RSUD ( Rumah Sakit Umum Daerah ) Tanjung Pura


Rumah Sakit Umum Tanjung Pura,  Tanjung Pura, Langkat , Sumatera Utara, Indonesia. No Telp: 061-8960241.
Tampak Depan Bangunan Rumah Sakit Tanjung Pura Jl.Chairil Anwar No 43
Tampak Depan Bangunan Rumah Sakit Tanjung Pura
Jl. Chairil Anwar No 43 




















Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Tanjung Pura 


Rumah Sakit Umum Tanjung Pura didirikan pada tahun 1933 pada masa pemerintahan kolonial Belanda, berlokasi di jalan  Jl. Chairil Anwar No. 43. RSU Tanjung Pura adapun kini telah memiliki sembilan dokter spesialis (penyakit dalam, anak, bedah, kebidanan dan kandungan, kulit kelamin, patologi, paru, mata, telinga hidung dan tenggorokan) Memiliki unit pelayanan instalasi laboratorium, pelayanan instalasi bedah sentral, pelayanan radiology. RSU Tanjung Pura merupakan pusat  rujukan seluruh puskesmas di sekitar wilayahnya, juga menyediakan pelayanan rawat inap maupun rawat jalan bagi pasien, Dan RSU Tanjung Pura juga menerima pasien Jamkesmas dan Askes. Status RSU Tanjung Pura kini telah ditingkatkan oleh pemerintah pusat menjadi Rumah Sakit Klas-C
Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Langkat (Perda) Nomor : 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Organisasi, Kedudukan dan Fungsi Perangkat Daerah Kabupaten Langkat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat dipimpin oleh seorang Direktur dengan membawahi 1 (satu) Sub Bagian Tata Usaha dan 5 (empat) Seksi, serta Kelompok Jabatan Fungsional

Uraian sebagai berikut :

1.  Sub Bagian Tata Usaha
2.  Seksi Pelayanan Medis
3.  Seksi Perawatan
4.  Seksi Rekam Medik dan Pelaporan
5.  Seksi Penunjang Medis dan Non Medis
6.  Seksi Penelitian dan Pengembangan
7.  Kelompok Jabatan Fungsional

  Pejabat Struktural  : 7 orang
  Pejabat Fungsional : 150 orang
  Tenaga Administrasi: 30 orang

2. Komposisi SDM tersebut berdasarkan strata pendidikan, yaitu :

  Tenaga Non Medis :

1. S-1  : 6 orang

2. SLTA/STM: 16 orang

3. SLTP  : 2 orang

4. SD  : 6 orang

  Paramedis Non Perawatan :


1.  Sarjana Kesehatan Masyarakat  : 4 orang

2.  DIII Farmasi  : 2 orang

3.  Apoteker  : 3 orang

4.  Asisten Apoteker  : 4 orang

5.  S-1 Fisika Medik  : 1 orang

6.  Analis Kesehatan  : - orang

7.  D-III Gizi  : 1 orang

8.  D-IV Gizi  : 1 orang

9.  DIII Fisioterapi  : 1 orang

10. Sarjana Radiologi : - orang

11. D-III Radiologi: 2 orang

12. D-III Perawat Gigi: 1 orang

13. Perawat Gigi: 2 orang

  Paramedis Perawat/Bidan :

1.  D-III Keperawatan  : 56 orang

2.  D-III Kebidanan  : 15 orang

3.  SPK  : 19 orang

4.  Perawat Bidan  : 3 orang

5.  Tenaga Para Medis Lainnya  : 18 orang

  Tenaga Medis/Dokter :

1.  Spesialis Penyakit Dalam  : 1 orang

2.  Spesialis Anak  : 2 orang

3.  Spesialis Bedah  : 2 orang

4.  Spesialis Obgin  : 3 orang

5.  Spesialis THT  : 1 orang

6.  Spesialis Kulit dan Kelamin  : 1 orang

7.  Spesialis Penyakit Mata  : 1 orang

8.  Spesialis Patalogi Klinik  : 1 orang

9.  Spesialis Paru  : 1 orang

10. Dokter Gigi  : 4 orang

11. Dokter Umum  : 15 orang

Dalam jumlah tersebut belum termasuk tenaga honorer sebanyak 58 orang yang turut serta dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat. Formasi jabatan yang tersedia telah terisi, dan telah berjalan sebagaimana mestinya.

Sekolah Agama Islam Jamaiyah Mahmudiyah Li Thalabi Khairiyah

Jamaiyah Mahmudiyah Li Thalabi Khairiyah
Jamaiyah Mahmudiyah Li Thalabi Khairiyah adalah sekolah agama Islam yang didirikan pada tanggal 31 Desember 1912 atau 22 Muharam 1330 H, merupakan suatu ide dari Sultan Abdul Aziz dan masyarakat Langkat sendiri, Pada saat itu pihak Sultan dan para Alim Ulama besar setempat segera mengadakan pertemuan/rapat yang berlangsung di Mesjid Raya Azizi Tanjung Pura. Dalam pertemuan yang berlangsung di Mesjid ini menghasilkan suatu keputusan yang sangat baik yaitu akan didirikannya suatu organisasi pendidikan yang berbasiskan ajaran agama Islam sebagai pokok ajaran dasar. Sultan Abdul Aziz adalah orang yang religius dan memahami pentingnya pendidikan. Pendirian organisasi ini disambut gembira para tokoh agama Islam, hal ini disebabkan organisasi ini berbasiskan pada ajaran agama Islam.

Dalam perumusan dan musyawarah inilah kemudian disepakati nama bagi organisasi pendidikan ini yaitu: Jamaiyah Mahmudiyah Li Thalabil Khairiyah Menurut makna Arabnya berarti “Perkumpulan Terpuji Untuk Mendapatkan Kebajikan”. Pendirian organisasi ini segera mendapatkan peresmian dari Sultan Langkat dengan SK (Besluit) No. 102 tahun 1912 dan bertanggal 31 Desember 1912 atau pada tanggal 22 Muharam 1330 H. 

Adapun pengurus yang dibentuk dalam mengelola pendidikan ini untuk pertama kali disusunlah pengurus Jamaiyah Mahmudiyah yang terdiri atas: 

1. Pimpinan Umum (Janabul Ali) : Sultan Abdul Aziz 

2. Pengurus Harian (Mudir) : Raja Muda T. Mahmud bin A.aziz 

3. Sekretaris : T. Pangeran Indra Diraja 

4. Bendahara : H. Abdullah Umar 

5. Pembantu : Dt. Amar Diraja 

6. Tengku Fachruddin 

7. H. Zainuddin 

8. H. Muhammad Thaib 

9. H. M. Ziadah 
10.Dan seluruh pangeran, kerajaan dan datuk dari kerajaan Langkat 

Kepercayaan untuk pertama kali telah diberikan oleh H.M. Zaidah sebagai penyelengara pendidikan yang pertama telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dimana pendidikan diatur dengan sangat rapi. Yayasan ini telah menerapkan berbagai macam peraturan yang berguna bagi kelancaran belajar mengajar, sebagaimana sebuah sekolah yang baik pada masa itu

Pendorong kemajuan perekonomian Langkat tidak terlepas dari luasnya kosensi tanah yang diberikan oleh Sultan kepada perkebunan Belanda. Disamping dari penerimaan perkebunan Belanda, ada juga penerimaan dari eksplorasi minyak bumi di Pangkalan Berandan. Dengan adanya penerimaan dari ke dua sektor ini maka tidak mengherankan kalau kesultanan Langkat menjadi sebuah kesultanan yang makmur. 

Dalam setiap perkembangan suatu daerah tidak terlepas dari peran kemajuan ekonominya sehingga tidak dapat dipunkiri lagi bahwa faktor ekonomilah yang menjadi penentu kemajuan kesultanan Langkat. Selain itu juga didukung oleh masyarakat Langkat yang ada di daerah tersebut sehingga dapat maju dan berkembang menjadi pusat perekonomian sekaligus sebagai pusat pendidikan. Oleh sebab itu kemajuan ekonomi harus didukung oleh pengetahuan dan kemampuan individunya supaya tercapai kemakmuran. Kesultanan Langkat merupakan kesultanan besar dan maju yang berada di bawah pimpinan Sultan Abdul Aziz, kemajuan ini tidak didapat dengan begitu saja melainkan dengan pengorbanan dan kerja keras Sultan dan masyarakat Langkat. Dapat dikatakan bahwa kemajuan ini merupakan kerja sama antara masyarakat yang berada di kesultanan Langkat dengan penguasa yakni Sultan Abdul Aziz itu sendiri.

Sebenarnya, pada awal 1900-an, Belanda telah lebih dahulu mendirikan sekolah. Langkatsche School (LS), namanya. Namun, siswa yang diterima di sana masih sangat terbatas, yakni hanya anak-anak bangsawan, anak-anak kerani Belanda, serta orang-orang kaya. Dalam bahasa pengantarnya, lembaga pendidikan tersebut menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Melayu. Selain itu, didirikan juga Europese Lagere School (ELS) untuk anak-anak asal Eropa dan Holland Chinese School (HCS) untuk anak-anak keturunan Cina.

Pada awal pembangunannya, didirikan tiga lembaga pendidikan, yakni Madrasah Al-Masrullah pada 1912, Madrasah Al-Aziziah pada 1914, dan Madrasah Mahmudiyah pada 1921

Pada tahun 1923 perguruan Jama’iyah Mahmudiyah telah memiliki 22 ruang belajar, 12 ruang asrama, disamping berbagai fasilitas lainnya seperti 2 buah Aula, sebuah rumah panti asuhan untuk yatim piatu, kolam renang, lapangan bola dan sebagainya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada perguruan Jama’iyah Mahmudiyah, maka tenaga pengajarnya sebagian besar merupakan guru-guru yang pernah belajar ke Timur tengah seperti Mekkah, Medinah dan Mesir. Mereka semua dikirim atas biaya Sultan setelah sebelumnya diseleksi terlebih dahulu, hingga sekitar tahun 1930 siswa-siswa yang belajar di perguruan ini sekitar 2000 orang yang berasal dari berbagai macam daerah.

Kini Bangunan induknya berlantai dua. Jendela-jendela lebar berwarna hijau menghiasi dinding bangunan bercorak klasik yang berwarna kuning. Inilah Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah, sebuah madrasah yang kini nampak sederhana. Dan Pada tanggal 15 Desember 2012 lalu, Jam’iyah Mahmudiyah tepat berusia 100 tahun.

Tersohornya Langkat sebagai tempat pendidikan kala itu memang ditunjang oleh kualitas Pendidiknya, yang adalah para tuan guru yang didatangkan langsung dari Kairo (Mesir), Saudi Arabia, dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Biaya pendidikan pun ditanggung oleh Kesultanan. Bahkan, untuk murid-murid yang berprestasi, ada semacam beasiswa (dalam bahasa hari ini) untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, baik ke Mekkah, Madinah, maupun Mesir.

Sekembalinya dari Timur Tengah, para santri yang dikirim oleh Sultan diminta mengabdi dan mengajar di Jam’iyah Mahmudiyah. Hingga sekitar 1930, tak kurang dari dua ribu siswa belajar di perguruan ini.

Sebagai salah satu organisasi pendidikan yang pertama kali berdiri tentu saja mendapatkan berbagai macam hambatan dan rintangan yang tidak mudah untuk dilalui oleh Jamaiyah ini. Walaupun demikian organisasi ini mampu bertahan sampai tahun 1944 sebab pada tahun inilah terjadi kekosongan murid dan guru sebagai akibat dari pendudukan Jepang. Salah satu faktor pendorong dari berdirinya organisasi pendidikan Jamaiyah adalah dengan majunya perekonomian Langkat. Kemajuan ini memberikan dampak yang positif secara langsung kepada masyarakat. Kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang menjadikan kesultanan Langkat manjadi daerah yang dapat dikatakan sebagai kota metropolitan pada zamannya.

Madrasah sendiri sebagai suatu lembaga pendidikan dalam bentuk formal telah dikenal sejak awal abad ke- 11 atau abad ke-12 M atau sejak abad ke-6-7 H yaitu sejak dikenalnya Madrasah Nidzamiyah yang didirikan di Baghdad oleh Nizam Al- Mulk, seorang Wazir dari dinasti Saljuk.

Dengan berdirinya organisasi pendidikan ini, maka akses untuk mendapatkan pendidikan bagi putra dan putri di Langkat menjadi lebih muda. Organisasi ini telah lama diimpikan oleh Sultan semenjak ia naik tahtah. 

Sultan ingin memajukan daerah Langkat sebagai daerah yang religius disamping itu tujuan dibangunnya organisasi pendidikan ini adalah : 
1. Untuk mendidik siswa menjadi seorang muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT,    berakhlak mulia,    memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir dan batin. 
2.  Untuk mendidik siswa menjadi mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, 
     dan mengamalkan sejarah Islam secara utuh dan dinamis. 
3.  Untuk mendidik siswa agar menjadi tenaga pengajar yang cakap dalam berbagai sektor        pembangunan di    kesultanan Langkat. 

Sebagai organisasi pendidikan Islam, Jamaiyah Mahmudiyah memiliki akar dan tujuan yang sangat jelas bagi pembangunan moral dan spiritual masyarakat Langkat. Pada awal berdirinya, organisasi ini memiliki misi pengembangan pendidikan, melainkan juga dakwah, justru misi yang kedua inilah yang lebih menonjol. Lembaga pendidikan ini juga berusaha untuk melawan berbagai maksiat yang terjadi ditengah masyarakat seperti perkelahian, perampokan, pelacuran perjudian dan sebagainya. Inilah yang menjadi tujuan Sultan agar daerah kesultanan Langkat menjadi aman dan tentram.

Pada awalnya madrasah (maktab) ini hanya disediakan untuk anak-anak keturunan raja dan bangsawan saja, namun pada perkembangannya maktab ini memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk dapat belajar dan menuntut ilmu. Beberapa tokoh nasional yang pernah belajar di maktab ini antara lain adalah Tengku Amir Hamzah dan Adam Malik (mantan wakil presiden RI).
Adam Malik (mantan wakil presiden RI
Adam Malik
(mantan wakil presiden RI Ke 3)


Dalam biografinya Adam Malik meyebutkan bahwa madrasah Al-masrullah termasuk lembaga yang mempunyai bangunan bagus dan modern menurut ukuran zaman tersebut. Di mana masing-masing anak dari keluarga berada (kaya) mendapat kamar-kamar tersendiri. Sistem pendidikan yang dijalankan pada sekolah ini sama seperti sistem sekolah umum di Inggris, di mana anak laki-laki usia 12 tahun mulai dipisahkan dari orang tua mereka untuk tinggal di kamar-kamar tersendiri dalam suasana yang penuh disiplin. Fasilitas-fasilitas olah raga juga disediakan di sekolah tersebut seperti lapangan untuk bermain bola dan kolam renang milik kesultanan Langkat.






Panganan/ Oleh-oleh Khas Tanjung Pura

1. Dodol

Dodol Tanjung Pura
Dodol Tanjung Pura
Siapa yang tak kenal makanan tradisional "Dodol". Cemilan yang punya banyak cerita. Dari anak kecil sampai orang tua pasti menyukainya. Bagaimana tidak, rasanya yang manis, gurih, legit, dan juga banyak rasanya telah banyak diminati dan disukai. Dodol selalu menjadi teman buat santai, cemilan dalam perjalanan, dan juga menjadi buah tangan atau oleh-oleh.
Tanjung Pura merupakan kota kecil yang terkenal akan oleh-oleh-nya yaitu “dodol”, sehingga tidak jarang kita dapat melihat banyak jejeran dagangan dodol di seberang jalan jembatan tanjung pura menuju kota Pangkalan Brandan
Cemilan ini juga memiliki banyak varian rasa, dari rasa durian, kacang, coklat, nanas, pandan, srikaya, pepaya, lidah buaya, salak dan banyak lagi


2. Udang Galah

Rileks seafood Tanjung Pura
Rileks seafood Tanjung Pura
Tidak hanya dodol yang merupakan makanan khas disana, tetapi juga terdapat makanan sea food yang sangat lezat, yaitu udang gala. Dikenal memiliki bentuk yang lebih besar dan citarasa udang-nya sendiri bercampur rajikan bumbu khas kota kecil Tanjung Pura. Dengan sea food sebagai tema-nya, maka kita dapat menjumpai sebuah restoran bernama “Rileks seafood” yang berdiri di pinggir sungai dengan latar belakang jembatan dan struktur ruangnya papan kayu. Terbayang seakan suasana pesisir pantai, Restoran tersebut sangat ramai dikunjungi pada hari-hari besar, karena pengunjung yang berasal dari luar kota maupun sekitarnya akan beramai-ramai mengunjungi restoran tersebut bersama dengan keluarga.

3. Jajanan Lainnya

Ragam Jajanan Kota Mungil Tanjung Pura
Ragam Jajanan Kota Mungil Tanjung Pura
Ragam jenis makanan ini dapat anda jumpai disekitar kota Tanjung Pura yang juga memiliki daya tarik tersendiri bagi anda para pecinta kuliner khas daerah
hmm... sudah kebayang enaknya menu makanan yang disajikan, semoga hari anda menyenangkan, sampai jumpa di lain kesempatan dan terimakasih atas waktunya :)



Tanjung Pura Masa Kini
Tanjung Pura Masa Kini
Meskipun Tanjung Pura ini merupakan kota kecil dan sebagian orang bilang kampungan, akan tetapi kaya akan makanan lezat dan tempat-nya yang sering pula dikunjungi baik oleh para wisatawan maupun wartawan sebagai objek wisata sejarah maupun kuliner, meskipun kecil Tanjung Pura memiliki ciri khas daerah yang berbeda dari daerah lainnya, semoga artikel saya ini dapat memberikan sedikit pengetahuan kepada anda mengenai kampung halaman saya ini, sampai jumpa dan terimakasih.  



MAAF BLOG INI MASIH DALAM PERBAIKAN...!!! 


TERIMA KASIH :)

Ayo mari berteman dengan saya di facebook, ketik saja fata moringo atau



7 comments:

  1. Bagus sekali postingannya pak! :D
    saya juga orang langkat :D

    ReplyDelete
  2. nice posting,cintai tanah kampung halaman. blog saia juga mengangkat kota asal daerah sendiri, terus berkarya, nanti kapan2 mampir aja ke blog saia.

    ReplyDelete
  3. Makasih ya atas komentar-komentarnya,
    semoga dari blog ini saya dapat memunculkan ide-ide lainnya, amin, sekali dari lagi saya makasih.

    ReplyDelete
  4. bagus. semoga bermanfaat untuk kota kecilku yang semakin tak terurus.

    ReplyDelete
  5. saya respek sm anda,sy jg org tj pura tepatnya didesa pntaicermin lorong pankal pasar.tp sy tdk bs untuk mmbuat artikel sperti anda,mk dari itu smoga anda bs mmbuat krya2 terbaru. amiiin

    ReplyDelete
  6. Pertama saya sangat berterima kasih sekali kepada para pembaca yang telah bersedia meluangkan waktunya dan juga yang telah mau memberikan beberapa komentar,
    khususnya terima kasih saya kpd pak syamsul bahri yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan komentar positifnya pada blog saya yang sangat sederhana ini, jujur saya merasa sangat terkejut melihat minat keingintahuan saudara/saudari yang akhirnya mempertemukan kita semua pada blog kita ini, awalnya pak saya juga seperti bapak iseng-iseng waktu santai saya cari di internet cara membuat blog, dan awalnya niat saya hanya sekedar menguji sejauh apa kemampuan saya dibidang internet, dan Alhamdulillah ternyata saya bisa juga, ternyata jika kita "Mau belajar" apapun kita bisa, dan saya berharap kedepannya akan ada orang-orang yang perduli dengan tempat tinggalnya yang bisa menghargai dan mau mempublikasikan kekayaan yang dimiliki daerah tempat tinggalnya kepada orang banyak, karena orang bijak mengatakan "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya itu sendiri", dan ada pula yang mengatakan "Jika bukan kita siapa lagi?", sekali lagi saya merasa sangat senang sekali atas komentar bapak dan saya mengucapkan banyak terima kasih,

    dan juga terima kasih kpd saudara yang bernama rainforest, seperti yang telah saya katakan pula sebelumnya, mungkin inilah saatnya kita memberikan sesuatu pada tempat tinggal kita, mungkin saja dengan adanya kita yang "perduli" akan daerah tempat tinggal kita, akan membuat perubahan besar karena menurut saya pribadi "Sesuatu hal yang besar itu berawal dari sebuah hal yang kecil" semoga kedepannya akan jauh lebih baik dari hari ini, Dan adapula orang yang mengatakan bahwa "Cinta itu adalah pembuktian bukan hanya sekedar ucapan" hehe.. dan akan lebih baik jika kita "Memberi dari pada menerima" Dalam sebuah hadist juga dikatakan “Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima pemberian).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)". baiklah sepertinya sudah terlalu banyak pribahasa yang telah saya ucapkan, dan yang terpenting adalah semoga apa yang kita lakukan ini dapat bermanfaat bukan hanya bagi kita sendiri, namun terutamanya bagi orang banyak, sekian dari saya akhir kata

    wabillahi taufik walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

    Terima kasih.... :)

    ReplyDelete
  7. TERIMAKASIH, SAYA MEMBERIKAN APRESIASI KPD SDR YANG TELAH MENULIS ATIKEL INI. INI MEMBUAT SAYA SEBAGAI ORANG ASLI MELAYU DAPAT BELAJAR BETAPA BESARNYA SUMBANGAN PUAK MELAYU THD KEMAJUAN BANGSA INI. KEBETULAN SAYA SEKARANG TINGGAL DI MERAUKE PAPUA, ISTRI SAYA BERASAL DARI PGAA TANJUNG PURA LANGKAT YANG SAYA PERSUNTING TAHUN 1972. MOHON KIRANYA KILAS TENTANG PGAA PUTRI YANG MEMILIKI KENANGAN TERSENDIRI BAGI ISTRI SAYA YAITU KETIKA RUNTUHNYA GEDUNG PGA DAN MEMAKAN KORBAN YANG TIDAK SEDIKIT. TOLONG KALAU BOLEH DISIAPKAN DALAM MELENGKAPI ARTIKEL YANG ANDA TULIS. SALAM DARI MERAUKE UNTUK ANDA

    ReplyDelete